Senin, 09 September 2019

“Membiasakan Anak Dengan Adab Islam sehari-hari”


PENDIDIKAN ANAK
DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI ISLAM
“Membiasakan Anak Dengan Adab Islam sehari-hari”
Oleh : Imam Mukozali, S.Ag
Penyuluh Agama Islam Kab. Sidoarjo

Anak dalam Pandangan Al-Quran
Pandangan Al-Qur’an terhadap anak ada beberapa hal, yaitu : Pertama, Qurrata A’yun (enak dipandang/penyejuk mata) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon,25:74: “ Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa ” . Kedua, anak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai zinah atau perhiasan. Allah berfirman bahwa : “ kekayaan dan anak adalah perhiasan hidup di dunia “ (Qs. Al-Kahfi, 8:46). Ketiga, Al-Qur’an menyebutkan bahwa anak bisa menjadi ‘adduww (musuh) termasuk juga dalam hal ini suami istri atau istri (Qs. At-Tghabun 64:14). Di dalam ayat ini dinyatakan bahwa sebagian istri/suami dan anak-anak ada yang menjadi musuh, karena itu dinphkaerinta untuk berhati-hati, jangan sampai menjadi musuh. Keempat, anak bisa juga menjadi fitnah. Sebagaimana disebutkan bahwa harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah (Qs. Al-Anfal:28). Fitnah dalam ayat ini bukan berarti gossip, akan tetapi dalam arti bahwa harta dan anak-anak dapat menjadi sumber bencana.
Mendidik Anak Bukan Persoalan Sepele dan Biasa.
Pendidikan anak bukanlah persoalan biasa dan sepele. Mendidik anak bukanlah semata karena persoalan anak adalah sebagai investasi keluarga atau bahkan investasi sebuah negara sekalipun. Anak merupakan bagian dari hidup orang tua, sehingga sudah seharusnya kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua, termasuk juga ilmu dan pendidikan anak. Oleh karena itu, sudah tentu warna pendidikan anak akan ditentukan oleh “sentuhan” pendidikan yang diperankan oleh orang tua kepada sang anak. Merupakan suatu kemuliaan bagi orang tua di dalam mendidik, mempersiapkan dan membina anak-anak dalam mencapai keberhasilan dan kesuksesan yang paling besar bagi kehidupan anak-anak dimasa depan. Menpunyai anak berarti membuat suatu komitmen dengan mereka, dengan diri sendiri dan dengan hari depan.
Bagaimana mendidik anak dalam perspektif psikologi Islam?
Keutamaan mendidik anak dalam Islam sebagaimana keutamaan Islam dalam mengubah umat manusia dari kebodohan, kegelapan syirik, kesesatan, dan kekacauan menuju tauhid, ilmu hidayah dan ketremtaman. Sebagaimana Islam telah memberi metode yang tepat dan sempurna dalam pendidikan rohani, pembinaan generasi, pembentukan umat, dan pembangunan budaya, serta penerapan prinsip-prinsip kemuliaan dan peradaban umat manusia menuju semesta alam.
Pembentukan keimanan yang kokoh pada diri anak perlu adanya aplikasi pendidikan Islam secara konkret yang diciptakan orang tuanya dan keluarga. Kepribadian anak dibentuk oleh sistem pendidikan yang diperankan orang tua. Jadi keteladanan sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku dan sikap anak. Keteladanan orang tua harusnya menjadi sosok yang patut diteladani dalam penanaman nilai-nilai keislaman. Keteladanan harus ditumbuhkan dan diciptakan dalam rumah. Jadikan rumah sebagai sekolah tempat  mendidik anak-anak. Sejatinya, adalah tugas orang tua membantu sang anak untuk menemukan jati dirinya, mengarahkan, mengembangkan dan memberdayakan sehingga anak akan membawa pada hidayah, taufiq dan Ridho Allah SWT, menjadi anak shalih dan shalihah. Hadits Nabi Muhammad SAW dijelaskan, “Dari ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasululloh  SAW bersabda, Akrabilah anak-anak kamu, dan didiklah mereka dengan adab yang baik”  (HR Thabrani). Dalam Hadits lain disampaikan, “Muliakanlah (hormatilah) anak-anak kamu dan didiklah mereka dengan adab yang baik” (HR.Ibnu Majah).
            Adab Islam adalah adab baik yang merupakan perilaku yang dicintai oleh Alloh dan rasul-Nya. Adakalanya masyarakat tidak senang terhadap perilaku atau adab yang digariskan oleh agama. Adab yang tidak disenangi oleh masyarakat tetapi disyari’atkan oleh Alloh dan Rasul-Nya tetap merupakan adab yang baik. Masyarakat yang tidak menyenaginya itulah masyarakat yang akhlaqnya rusak. Jadi seharusnya kita tidak terpengaruh oleh penilaian masyarakat terhadap nilai-nilai adab yang bertentangan dengan syari’at islam. Sebagai muslim kita wajib berpegang teguh pada syari’at yang disampaikan oleh Rasululloh SAW.
            Drs Muhammad Thalib dalam bukunya 50 Pedoman Mendidik Anak menjadi Sholeh dijelaskan bahwa dalam mendidik anak dengan adab Islam yang terpuji, orang tua harus tahu pedomannya berdasarkan al-Qur’an dan Hadits. Sebagai contoh, bagaimana mengajarkan tatracara makan kepada anak, tatacara berpakaian, masuk rumah, keluar rumah, bangun tidur, tata cara mandi, tata cara bertamu dan sebagainya. [1]
1.      Tata cara makan dan minum
a.       Membaca bismillah sebelum makan dan minum
b.      Menggunakan tangan kanan
c.       Tidak berlebih-lebihan
d.      Mengambil makanan yang dekat di depannya dan tidak boleh yang jauh dari hadapannya,
e.       Bila makan bersama orang lain tidak berebut
f.       Tidak menyisakan makanan
g.      Menyudahi makan dengan alhamdulillah
h.      Menjilati jari-jarinya sehabis makan jika tidak memakai sendok
i.        Mencuci atau membersihkan tangannya sebelum dan sesudah makan
j.        Merapikan dan membersihkan tempat makan sesudah makan.
k.      Tidak mencela makanan yang tidak disukai.
2.      Tata cara berpakaian
a.       Menggunakan pakaian yang bersih
b.      Membaca bismillah ketika hendak memakai
c.       Mengenakan pakaian mulai dari bagian yang kanan
d.      Melepas pakaian mulai dari yang kiri
e.       Berpakaian yang rapi
f.       Pakaian harus menutup aurat
g.      Untuk wanita tidak boleh pakaian tembus pandang dan memeperlihatkan lekut tubuhnya.
3.      Tata cara keluar masuk rumah
a.       Mengucapkan salam kepada penghuni rumah atau tidak ada penghuninya
b.      Masuk rumah mendahulukan kaki kanan
c.       Membaca do’a ketika masuk rumah
d.      Keluar rumah mendahulukan kaki kiri
e.       Berdo’a ketika keluar
f.       Berpamitan kepada penghuni rumah
g.      Mengucapkan salam ketika keluar rumah
4.      Tata cara tidur
a.       Mencuci kaki dan tangan sebelum tidur
b.      Berdo’a sebelum tidur
c.       Merapikan tempat tidur
d.      Berbaring diatas lambung kanan
e.       Tidak menelungkup
f.       Mengenakan pakaian dalam agar tidak terbuka auratnya ketika tidur
g.      Bila mimpi buruk baca istighfar dan tidak menceritakan kepada orang lain
h.      Bila mimpi baik membaca alhamdulillah
i.        Berdo’a ketika bangun tidur
j.        Setelah bangun tidur tidak mencelupkan tangan ke dalam bak air atau bejana sebelum tangan dicuci.
k.      Merapikan kembali tempat tidur
5.      Tata cara mandi
a.       Masuk kamar mandi dengan kaki kiri
b.      Membaca do’a ketika masuk kamar mandi
c.       Membersihkan badan secara merata
d.      Tidak boros menggunakan air
e.       Selama di kamar mandi tidak berbicara atau bernyanyi
f.       Menutup aurot sebelum keluar kamar mandi
g.      Keluar kamar mandi mendahulukan kaki kanan
h.      Berdo’a ketika keluar kamar mandi
6.      Tata cara bertamu
a.       Mengucapkan salam (assalaamu’alaikum) kepada tuan rumah
b.      Tidak masuk rumah sebelum dipersilahkan
c.       Tidak mengintip ke dalam rumah tuan rumah
d.      Tidak berdiri di depan pintu tuan rumah sebelum dipersilahkan masuk, jika menunggu maka lebih baik di samping pintu.
e.       Sebelum dipersilahkan duduk, tidak boleh duduk lebih dahulu
f.       Tidak merepotkan tuan rumah
g.      Sebelum pulang permisi kepada tuan rumah dulu
h.      Sebelum meninggalkan tuan rumah mengucapkan terlebih dahulu (assalaamu’alaikum).
i.        Ketika makan hidangan yang disajikan tuan rumah hendaklah mendo’akan tuan rumah terlebih dahulu.
j.        Tidak boleh mencela hidangan yang disajikan tuan rumah dan jikla tidak suka maka diamlah.
Adab Islam sebaiknya dilaksanakan sebagai perwujudan pengakuan kita sebagai muslim. Dengan adab yang baik kita diciptakan kehidupan masyarakat yang tertip, tentram, dan penuh kedamaian. Dengan adab Islam kita dapat membina pribadi yang penuh disiplin, korektif, dan teliti. Sebab sehari-hari terbiasa berbuat secara teliti dalam mengatur tindakan dan perilaku.
Tuntutan adab Islam di atas menjadi tanggung jawab orang tua untuk mengajarkannya kepada putra-putri kita agar sifat dan perilku yang terpuji atau akhlaqul karimah menjadi pribadi dalam diri mereka sendiri. Sehingga orang tua dalam membina dan mendidik anak tentunya harus diberengi dengan pengetahuan dan pemahaman ilmu psikologi perkembangan anak   dengan harapan akan membantu mendidik anak dengan baik dan penuh kesadaran yang tujuannya agar anak kelak menjadi sholeh dan sholihah.



[1] Drs. Mohammah Tholib. 50 Pedoman Mendidik Anak Menjadi Sholih, Cetak ke 1, Penerbit : Irsyad Baitus Salam (IBS),Bandung.1996

Kamis, 05 September 2019

KHUTBAH JUM’AT, Tahun Baru Hijriyah


KHUTBAH JUM’AT
SMKN 1 Sidoarjo Jum’at, 6 September 2019
Tahun Baru Hijriyah

 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ، تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ، وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْاِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ الْمَلِكُ الْغَفَّارْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ. أَمَّا بَعْدُ.
 فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ فِيْ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ .

 إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ.


Saudara-saudara Kaum Muslimin, jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Bulan Muharram adalah satu di antara bulan-bulan yang mulia (al-asyhur al-hurum), yang diharamkan berperang di bulan ini. Ia dipandang bulan yang utama setelah bulan Ramadhan. Oleh karenanya, kita disunnahkan berpuasa terutama pada hari ‘Asyura, yakni menurut pendapat mayoritas ulama, tanggal 10 Muharram. Di antara fadhilah bulan Muharram, adalah ia dipilih oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai momen pengampunan umat Islam dari dosa dan kesalahan. 

Keistimewaan bulan Muharram ini lebih lanjut karena dipilih sebagai awal tahun dalam kalender Islam. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mengulas kembali sejarah tahun baru Hijriah, yakni sejarah penanggalan atau penetapan kalender Islam, yang diawali dengan 1 Muharram. Mengapa para sahabat memilih bulan Muharram sebagai awal penanggalan Islam? 

Dalam kitab Shahih al-Bukhari, pada kitab Manâqib al-Anshâr (biografi orang-orang Anshar) pada Bab Sejarah Memulai Penanggalan, disebutkan, 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا عَدُّوْا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوْا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ.

“Dari Sahl bin Sa’d ia berkata: mereka (para sahabat) tidak menghitung (menjadikan penanggalan) mulai dari masa terutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau, mereka menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah”. 

Hal itu dilakukan meskipun tidak diketahui bulan kehadirannya itu, karena sejarah itu sebenarnya merupakan awal tahun. Sebagian sahabat berkata pada ‘Umar, ”Mulailah penanggalan itu dengan masa kenabian”; sebagian berkata: ”Mulailah penanggalan itu dengan waktu hijrahnya Nabi”. ‘Umar berkata, ”Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil, oleh karena itu jadikanlah hijrah itu untuk menandai kalender awal tahun Hijriah”. 



Ma’âsyiral muslimîn hafidhakumullâh,

Setelah para sahabat sepakat mengenai peristiwa hijrah dijadikan sebagai awal penanggalan Islam, ada sebagian sahabat yang berpendapat bahwa untuk awal bulan Hijriyah itu: ”Mulailah dengan bulan Ramadhan”, tetapi ‘Umar radliyallahu 'anh berpendapat: ”Mulailah dengan Muharram”, itu karena Muharram merupakan masa selesainya umat Islam dari menunaikan hajinya. Lalu disepakatilah tahun baru hijriah itu dimulai dengan bulan Muharram.

Ibn Hajar dalam kitab Fath al-Bârî Syarah Kitab Shahîh al-Bukhârî mengatakan bahwa: 

"Sebagian sahabat menghendaki awal tahun baru Islam itu dimulai dengan hijrahnya Nabi, itu sudah tepat. Ia melanjutkan, ada empat hal atau pendapat yang mungkin dapat dijadikan sebagai awal penanggalan Islam, yaitu masa kelahiran Nabi (maulid al-Nabi), masa diutusnya Nabi, masa hijrahnya Nabi, dan masa wafatnya Nabi. Tetapi pendapat yang diunggulkan adalah menjadikan awal tahun baru itu dimulai dengan hijrah karena masa maulid dan masa kenabian itu keduanya tidaklah terlepas dari kontradiksi atau pertentangan pendapat dalam menentukan tahun. Adapun waktu wafatnya beliau itu, banyak tidak dikehendaki oleh para sahabat untuk dijadikan sebagai awal tahun, karena mengingat masa wafatnya Nabi justru menjadikan kesedihan bagi umat. Jadi kemudian pendapat dan pilihan itu jatuh pada peristiwa hijrah. Kemudian mengenai tidak dipilihnya bulan Rabiul Awal sebagai awal tahun tetapi justru dipilih bulan Muharram sebagai awal tahun karena awal komitmen berhijrah itu ada pada bulan Muharram, sehingga cocoklah hilal atau awal bulan Muharram itu dijadikan sebagai awal tahun baru Islam.” 

Ma’âsyiral muslimîn hafidhakumullâh,

Menurut satu pendapat, ada banyak hikmah dipilihnya peristiwa hijrah sebagai penanda Kalender Islam, Tahun Baru Hijriah. Di antaranya adalah dengan peristiwa hijrah itu, umat Islam mengalami pergeseran dan peralihan status: dari umat yang lemah kepada umat yang kuat; dari perceraiberaian atau perpecahan kepada kesatuan negara; dari siksaan yang dihadapi mereka dalam mempertahankan agama kepada dakwah dengan hikmah dan penyebaran agama; dari ketakutan disertai dengan kesukaran kepada kekuatan dan pertolongan yang menenteramkan; dan dari kesamaran kepada keterang-benderangan. Di samping itu, dengan adanya hijrah itu terjadi peristiwa sungguh penting antara lain, perang Badar, Uhud, Khandaq dan Perjanjian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyah), dan setelah 8 (delapan) tahun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hijrah di Madinah, beliau kembali ke Makkah al-Mukarramah dengan membawa kemenangan yang dikenal dengan Fath Makkah. Itulah peristiwa-peristiwa yang penting kita ingat. Oleh karena itulah, Al-Quran menjadikan hijrah itu sebagai sebuah pertolongan. Al-Quran mengingatkan kita:

إِلَّۗا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَاۖ فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلَٰىۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ.

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: ”Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa Mahabijaksana” (QS. Al-Taubah [9]: 40).

Allah pun telah memuji orang-orang yang berhijrah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. setelah hari kemenangan Fath Makkah bersabda: 

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا (مُتَّفّقٌ عَلَيْه). وَمَعْنَاهُ:لاَ هِجْرَةَ مِنْ مَكَّةَ لِأَنَّهَا صَارَتْ دَارَ إِسْلاَمٍ.

”Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah, akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah” (Muttafaq ‘alaih dari jalur ‘Aisyah radliyallahu ‘anha) Maknanya: Tidak ada hijrah dari Makkah karena dia telah menjadi negeri Islam. 

Hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M., bukanlah sekadar peristiwa dalam sejarah Islam, tetapi banyak petuah dan pelajaran berharga bagi kita, yang terpenting di antaranya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari Makkah berhijrah menuju Madinah itu tidaklah dalam keadaan membenci penduduk Makkah, justru beliau cinta kepada penduduk Makkah. Oleh karena itu ketika beliau keluar meninggalkan Makkah beliau berkata: 

وَاللهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللهِ إِلَى اللهِ، وَلَوْلَا أَنِّيْ أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ (رواه الترميذي والنسائي عن عبد الله بن عدي بن حمراء رضي الله عنه)

Artinya ”Demi Allah, sungguh kamu (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi Allah yang paling dicintai Allah, seandainya aku tidak dikeluarkan darimu (Makkah) maka tiadalah aku keluar --darimu.” (HR. al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Mâjah dll, dari ‘Abdullâh bin ‘Addî bin Hamrâ’ radliyallahu ‘anhum). 

Ini menunjukkan betapa kecintaan beliau kepada Makkah dan penduduk Makkah, sebagaimana maqalah populer menyatakan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah ekspresi kesempurnaan iman.

Dan satu hal yang penting dalam hijrah adalah bahwa hijrah itu adalah bermakna luas, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mulia bahwa: 

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Artinya: ”Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. al-Bukhârî). 

Hijrah di sini bermakna luas, meninggalkan adat atau tradisi fanatisme kesukuan, dan menegaskan hijrah itu meninggalkan dari segala yang dilarang oleh Allah dan yang di dalamnya membahayakan manusia.

Ma’âsyiral muslimîn hafidhakumullâh,

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diambil kesimpulan berkaitan dengan memuliakan bulan Muharram dan memperingati tahun baru Hijrah. Bahwa  dalam memuliakan dan memperingati tahun baru Hijriah harus memperhatikan hikmah atau pelajaran yang berharga dari peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, yang dapat disebutkan dalam tujuh poin penting berikut ini:

1. Hijrah itu adalah perpindahan dari keadaan yang kurang mendukung dakwah kepada keadaan yang mendukung.
2. Hijrah itu adalah perjuangan untuk suatu tujuan yang mulia, karenanya memerlukan kesabaran dan pengorbanan.
3. Hijrah itu adalah ibadah, karenanya motivasi atau niat adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.
4. Hijrah itu harus untuk persatuan dan kesatuan, bukan perpecahan.
5. Hijrah itu adalah jalan untuk mencapai kemenangan. 
6. Hijrah itu mendatangkan rezeki dan rahmat Allah.
7. Hijrah itu adalah teladan Nabi dan para sahabat yang mulia, yang seyogianya kita ikuti.

Kaum muslimin yang dikasihi Allah,

Demikianlah keistimewaan bulan Muharram dan poin-poin penting dari hikmah hijrah. Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita renungkan firman Allah dalam surat al-Anfâl (8) ayat 74:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَنَصَرُوْاۧ أُوْلَٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ.

Artinya: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi  pertolongan (kepada orang muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Demikian khutbah ini semoga bermanfaat. Semoga kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita Indonesia, dapat berhijrah kepada kebaikan dan kemuliaan. Amin. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بمَا  فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Penyuluh Agama Islam
Kab Sidoarjo
Imam Mukozali, S.Ag. MM

Jumat, 05 Juli 2019

Indikator Kebahagiaan Manusia di Dunia


Indikator kebahagiaan manusia dunia
Oleh : Imam Mukozali, S.Ag.,MM

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ تَزَوَّدَ بِهَا لِيوْم الحِسَاب اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ رَبُّ النَّاسِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ الأَشْخَاصِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا ، أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Suatu hari ia Ibnu Abbas pernah ditanya oleh para tabi’in tentang mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Abbas. Sahabat senior yang selalu menyertai baginda Rosulullah sallallahu alaihi wasallam. Dikalangan para mufassir, beliaulah terunggul di antara yang lain. pada umur 9 tahun saja ibnu Abbas kecil telah hafal Al-Qur’an dan menjadi imam masjid. Sampai Nabi pun pernah berdo’a khusus untuk beliau.
“Allahumma faqqohhu fiidaini,wa a’llamhutta’wiila”
artinya:“ya Allah,berilah kepadanya pemahaman tentang agama dan ajarilah dia tentang takwil”

Ibnu Abbas menjawab, ada 7 indikator mengenai kebahagiaan dunia, yang 4 diantaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
  
152. karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS Al Baqarah : 152)

  
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra’du : 28)

Kedua, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadits tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh. Salah satu amal jariyah yang tidak akan putus amalnya adalah awwaladun sholihun yad’ulah,  anak sholeh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.

23. dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS. Al Isra’ : 23)
 
74. dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqon : 74)

Ketiga, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An Nisa’ : 69)

55. dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Ad Dzariyat : 55)
Keempat, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam. 
  
20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS.Jaatsiiyah: 20)

138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Ali Imron : 138)


Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai indikator kebahagiaan dunia.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah

Penyuluh Agama Islam Fungsional Kec. Sidoarjo
Semoga manfaat...aamiin