Selasa, 21 Agustus 2018

“Rahmat Alloh diberengi dengan Kebaikan”


HIKMAH IDUL ADHA
( KHUTBAH HARI RAYA IEDUL ADHA 1439 H )
“Rahmat Alloh diberengi dengan Kebaikan”
Di Masjid Jamik Wonoayu
Oleh : Imam Mukozali, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam Sidoarjo

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

......

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.
Karena itu, melalui mimbar yang mulia ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin sekalian untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Alloh SWT dan marilah tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Allahu Akbar (3x)..Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat, sehingga Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diberikan kepada  saudara kita ayang kurang mampu.
Sejarah qurban yang melibatkan 3 tokoh utama yaitu Nabi Ibrahim. Siti Hajar dan Nabi Ismail merupakan suri tauladan. Sebuah keluarga yang mendapat ujian dan sekaligus rahmat dari Alloh SWT yaitu diperintah untuk menyembelih anaknya Ismail.  Allah Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga dengan ketulusan dan keikhlasan maka Nabi Ismal as mau disembeelih oleh ayahnya Ibrahim as. Namun digantilah dengan kambing oleh Alloh SWT. Sehingga disinilah keberhasilan mendidik anak dari seorang Ibrahim. Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orang tua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orangtua. Di antara mereka ada yang selalu membasahi penghujung malam dengan air mata untuk merintih kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara mereka ada pula yang menyertai langkah-langkahnya dengan niat yang lurus dan bersih.
Kadang seperti tak berkait langsung. Tetapi amal bergantung pada niatnya. Seorang ibu menyedekahkan hartanya karena mengharap ridha Allah dan penjagaan iman atas anak-anaknya, lalu Allah tegakkan dinding di hati anak sehingga tak terjangkau oleh kerusakan yang ada di sekitarnya. Boleh jadi seorang istri bersikeras meminta suaminya menyucikan harta, lalu Allah sucikan hati anak-anak mereka dari keruhnya hati dan kotornya pikiran. Boleh jadi pula ada bapak-bapak yang sibuk dengan perkara yang seakan tak bersentuhan dengan agama, tetapi sesungguhnya ia sedang menolong agama Allah, sehingga Allah berikan pertolongan kepada mereka. Allah datangkan pertolongan kepada mereka dengan jalan yang tak terduga.
Teringatlah saya dengan firman Allah,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Q.s. Muhammad [47:]: 7).
Korban yang diperintahkan kepada kita saat ini tidak usah anak menyembelih anak kita, namun cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita masih terlalu banyak berfikir, memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT.
Allahu Akbar (3x)...Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Kalau kita jauh dari Rahmat Alloh maka kita sangat rugi baik di dunia dan akhirat. Kunci dari kita supaya selalu mendapat Rahmat Alloh adalah senantiasa berbuat kebajikan. Sebagaimana Alloh berfirman  dalam QS.Al-A’raf : 56
إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”
Kebaikan yang kita perbuat akan memberikan dampak yang sangat baik terhadap diri kita, keluarga dan masyarakat. Karena manusia didunia atau di alam fana ini diberikan 2 pilihan oleh Alloh SWT. Sebagaiman diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya, surat Al-Syamsu ayat  8-10.

8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Hadirin Jamaah Sholat Ied Rahimakumullah…

Jalan yang diberikan oleh Alloh adalah :
1.   Jalan ketaqwaan atau jalan kebaikan, apabila yang dipilih adalah jalan yang baik maka, dunianya selalu akan memberikan kebaikan kepada setiap manusia dan masyarakat Dalam hidupnya selalu memberikan manfaat yang baik kepada setiap manusia. Intinya manusia berguna bagi manusia yang lain. Sebagaimana Rasul bersabda..khoirunnas angfaahum linnas..sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

2.  Jalan yang kedua adalah jalan kefasikan atau jalan kemungkaran.

Kalau yang dipilih adalah jalan kejelekan maka manusia akan selalu berbuat dosa dan fasik, maka akan terjerumus ke tempat yang tidak baik pula  (fujuur…) yaitu jalan kefasikan. Kefasikan adalah sejelek jelek sebutan bagi manusia. Jalan inilah yang merupakan jalannya syetan dan iblis. Menurut Muhammad bin Ka’at dalam tafsir Al Qurtubhi menjelaskan bahwa apabila Allah menghendaki manusia itu baik maka Allah akan memberikan pengetahuan tentang masalah kebaikan dan manusia itu akan mengamalkannya, dan sebaliknya bagaimana kalau ada jalan kejelekan apakah manusia juga akan menjalankannya, tentunya berusaha untuk menghindarinya.

Kebaikan atau kejahatan yang dipilih oleh manusia merupakan pilihannya selama di dunia namun akan dipertanggungjawabkan di akhirat.  Karena kabaikan yang diperbuat maka akan kembali kepada dirinya sendiri begitu juga sebaliknya kejelekan yang diperbuat juga akan kembali pada dirinya sendiri, Allah SWT berfirman:


Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,   (QS. (17) al Isro’ :7)

Alloh Akbar (3)...Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini yang bisa kita ambil manfaat adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya kepada Alloh SWT. Sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pertama, Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya.
Kedua, perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri. Apabila yang kita kerjakan baik maka akan baik pula diri kita, kalaulah jelek maka juga akan jelek pulalah diri kita.
Allahu Akbar (3x).. Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk terus bersemangat, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin 3x ya robbal alamin.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ





Kamis, 02 Agustus 2018

Khutbah Jum'at : Islam Itu Mudah dan tidak sulit


Khutbah Jum’at
Masjid Al Surya RS Delta Surya Sidoarjo
Jum’at, 3 Agustus 2018
Judul : Islam Itu Mudah dan tidak sulit
Oleh :Imam Mukozali, S.Ag.,MM
Penyuluh Agama Islam Kab. Sidoarjo

Ada sebagian manusia yang beranggapan bahwa agama Islam ini sulit dan berat dalam pelaksanaan ibadahnya. Ketahuilah bahwa tidak ada yang merasa berat dalam pelaksanaan ibadah kecuali
(1) Tidak ikhlas dalam beribadah
(2) Tidak memiliki ilmu yang memadai dalam beribadah.
Jika ibadah dilakukan dengan ikhlas dan dilakukan sesuai petunjuknya yang shahih maka tidaklah ditemukan sesuatu yang sulit dan berat dalam menjalankan syariat ataupun ibadah dalam agama Islam yang mulia ini.
Diantara bukti kemudahan  syari’at Islam khususnya dalam ibadah adalah bahwa Islam   hanya menyuruh umatnya melakukan perintah sesuai kemampuan.
Allah berfirman :
فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ ... 
Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu (Q.S at Taghabun 16).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan para hambaNya agar bertakwa kepadaNya yaitu dengan menunaikan perintah sesuai kemampuan dan menjauhi larangannya. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan. (Tafsir Karimur Rahman).

Rasulullah bersabda :

“Maa nahaitukum anhu fajtanibuhu. Wamaa amartukum bihi faktu minhu mastatha’tum.”
Apa yang aku larang kalian atasnya maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kalian maka lakukanlah semampu kalian (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Setelah diberikan perintah untuk melaksanakan ibadah sesuai kemampuan, Allah Ta’ala juga memberikan banyak rukhsah sebagai keringanan bagi umatnya.  Sungguh Allah Ta’ala sebagai Khaliq, Maha Mengetahui tentang kelemahan hambaNya. Maka dalam syari’at Islam Allah memberikan rukhshah atau keringanan yang banyak.
Allah berfirman :
 يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ ...

2.Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
[Al Baqarah:185]

Ma’asyiril Mukminin rahima kumulloh,

Seperti menyembelih hewan qurban, satu sisi merupakan sebuah kewajiban yang harus dikerjakan oleh umat manusia yang mampu, tetapi dalam sisi lain bagi yang belum mampu diberikan kelonggaran atau toleransi oleh Alloh SWT untuk tidak berqurban.

Dalam surat Al Kautsar difirmankan:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus

Sehingga bisa kita pastikan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Setiap apa yang diperintahkan oleh Alloh kepada manusia pasti diikuti dengan perintah yang lain yang meringankan

Kamis, 01 Maret 2018

“Tidak Sempurna Iman Tanpa Ukhuwah”



KHUTBAH JUM’AT
Masjid Polres Sidoarjo, 23 Pebruari 2018
“Tidak Sempurna Iman Tanpa Ukhuwah”


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Ukhuwah Islamiyah adalah sesuatu yang menyatu dengan iman dan takwa. Tidak akan sempurna iman tanpa ukhuwah. Dan tidak ada ukhuwah yang hakiki tanpa iman. Tidak ada persaudaraan yang abadi tanpa takwa. Dan tidak ada takwa yang sempurna tanpa persaudaraan.
Allah berfirman dalam Q.S al-Hujarat:10,
  “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Intinya, ayat tersebut menyuruh kita agar selalu memelihara persaudaraan. Selain itu, kita juga diwajibkan untuk mencegah konflik dan berupaya untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa.
Dalam Q.S. az-Zukhruf ditegaskan, teman akrab bisa menjadi musuh kalau pertemanan itu tidak dilandasi takwa. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”
Jika ukhuwah kosong dari iman dan takwa, maka yang menjadi ikatan persaudaraan adalah kepentingan sesaat. Yang tidak mustahil akan mudah retak dan rapuh jika terjadi perbedaan dalam menyikapi kepentingan tersebut. Hal ini diingatkan Allah dalam Q.S. al-Maidah:27, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang di antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesunguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang bertakwa.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Ukhuwah Islamiyah yang dilandasi iman dan takwa adalah perekat yang sangat penting bagaikan bangunan dalam melaksanakan amal ibadah dan merupakan sebuah kewajiban sekaligus sebuah kebutuhan.
Ini bisa kita simak dari Q.S. ash-Shaf:4 yang menyebutkan

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Untuk tegaknya ukhuwah Islamiyah, diperlukan beberapa persyaratan yang sekaligus merupakan pilar utamanya.
Pertama, memiliki kepamahaman yang sahih tentang ajaran Islam. Upaya ke arah itu antara lain dengan pengkajian ajaran Islam secara benar dan terus-menerus.
Kedua, memiliki kesungguhan untuk senantiasa mengembalikan setiap persoalan kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seperti yang diingatkan Allah dalam Q.S. Ali Imran:102 dan 103.
..
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.
103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,

Ketiga, berusaha untuk terus-menerus melaksanakan silaturahmi, taushiyah, dan  tabayun, jika mendengar suatu berita tentang sesama saudaranya. Kita harus ber-ta’awun, tolong-menolong, dan itsar, berusaha mendahulukan kepentingan saudara di atas kepentingan diri sendiri.
Keempat adalah menjauhkan diri dari perbuatan yang akan merusak ukhuwah Islamiyah, seperti menghina, ghibah, menfitnah, menyebarkan aib sesama saudara dan perilaku lainnya yang merusak, seperti yang diingatkan Allah dalam Q.S. al-Hujarat:11-12.
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, ...
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.
Kelima, jika terjadi perbedaan pendapat, maka hendaknya perbedaan tersebut dibingkai oleh akhlakul kharimah. Adanya perbedaan pendapat sebenarnya merupakan masalah biasa.
(Q.S. An-Nahl [16]:125)
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl [16]:125)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Sekarang yang menjadi masalah dan keprihatinan kita adalah perbedaan tersebut menjurus kepada perpecahan dan pertentangan. Ini akan mengakibatkan hilangnya kekuatan dan porak-porandanya barisan umat. Allah SWT sangat mengkhawatirkan hal ini.
Maka, dalam Q.S. al-Anfal:46 disebutkan :

46. dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Maka, untuk menghindari hal tersebut, kita perlu memahami berbagai perbedaan. .